Pilkada Sragen: Jurus Lama Vs Jurus Baru
Posted on 17 Maret 2011 by Tiyo Kamtiyono
Seperti yang banyak diberitakan berbagai media, seperti solopos. Bahwa besok hari sabtu tanggal 19 Maret adalah hari dimana nasib Kabupaten Sragen lima tahun ke depan akan ditentukan melalui sebuah pemilihan kepala daerah (pilkada). Selama masa kampanye, para pasangan calon sudah berusaha untuk mendapatkan simpati dan dukungan masyarakat guna mencapai kursi Sragen 1. Ada beberapa hal yang menarik perhatian bagi saya akan hal ini :
Pilkadanya Yuda – Ada
Dari lima pasangan yang ada, Wiyono – Dariyanto (Noto), Sularno – Kushardjono (Laku), Danang Wijaya – Sumiyarno (Damar), Yuni – Darmawan (Yuda) dan Agus – Daryanto (Ada), tidak terdapat persaingan yang kuat antara kelimanya. Yang nampak begitu berhimpitan dalam berebut kans hanya pasangan Yuda yang disupport oleh bupati Sragen terdahulu (Yuni adalah anak Bupati Untung) dan pasangan Ada di mana Agus Faturohman adalah wakil bupati selama ini, namun selam beberapa tahun terakhir ini aksinya kadang bisa disebut sebagai ‘oposisi’.
Basic dukungan kekuatan kedua pasangan juga sama – sama kuat, Yuda kebanyakan mendapat image bagus bagi kalangan masyarakat desa, terutama di kawasan barat dan utara seperti Miri, Sumberlawang, Mondokan, Sukodono dan Tanon. Sementara pasangan Ada banyak didukung oleh para pegawai kantor, yang sudah banyak mendengar dan tahu, bagaimana keburukan – keburukan kepemimpinan Bupati Untung selama ini. Mulai dari birokrasi yang kotor, proses menjadi PNS yang tidak clear serta isu ijazah palsunya yang sebagain besar pegawai yakin akan kebenarannya. Sehingga tidak heran para pegawai dan masyarakat perkotaan tersebut tidak mau lagi melanggengkan kepemimpinan dinastinya melalui anaknya. Juga oleh masyrakat Muhammadiyah mungkin, dilihat dari keberadaan Dodok Sartono dalam Koordinator Media Center ADA, dia adalah salah satu tokoh yang aktif di Muhammadiyah Sragen.
Jurus – Jurusnya
Bicara soal jurus (terutama kalimat – kalimat orasinya) mereka dalam kampanye yang lalu, saya jadi sedikit tergelitik. Politikus jaman sekarang, selain niatan baik buat benar – benar bekerja sesuai dengan harapan rakyat yang mendukung mereka sering kali dipertanyakan, ternyata juga tidak kreatif. Pasangan Ada meminjam kata kata yang mirip dengan orasi SBY jaman pemilu tahun 2004, harus ADA perubahan lah, apalah, de le el. Sedangkan pasangan Yuda juga sama saja, setali tiga uang, Yuda Yes! Lanjutkan! Jurus yang sudah dipakai SBY dalam mendapatkan kemenangan dan mempertahankannya, sekarang diadu di Pilkada Sragen, mana yang lebih sakti? Kita lihat saja nanti, hehehehe….
Serangan Fajar, Maghrib dan Isya
Rasanya kurang afdol, kalau mau nyoblos tapi tidak ada satu pun dari para calon yang memberikan amplop. Mindset seperti itu masih kuat ternyata di benak penduduk Sragen. Sehingga tidak heran kalau budaya buruk ini tetap berjalan. Para calon pasti sudah ada yang menyiapkan uang berkarung – karung untuk menyongsong peperangan di kala fajar dengan amplop.
Juga yang terjadi di lingkungan saya, serangan Maghrib dengan menjanjikan akan diberi 25 karung semen oleh salah satu calon, dengan syarat suara penuh di tangan. Kalau kalah ya di tarik lagi. Ya Allah, bodohnya upaya ini, kalau rakyat yang diperlakukan begitu mau memberi dukungan, berarti dia adalah orang yang begitu bodoh. Betapa tidak, dengan datangnya iming – iming itu saja khan menandakan kalau sang calon beranggapan orang kampung bodoh, mudah dibeli suaranya dengan barang yang tidak pasti, wong nek kalah dipendhet malih. Kalau benar – benar jadi ndukung ya sudah, persepsi calon itu benar, orang kampung memang bodoh. Dengan adanya ungkapan ‘kalau kalah ditarik lagi’ ini saja bagi saya menandakan kebobrokan moral calon tersebut, seolah mengajari rakyat berjudi, calon macam apa ini?
Serangan Isya’nya? Cari sendiri, pasti juga ada, hehehehe….. Kalo ga ada juga ga apa – apa, saya menulis juga sebagai pelengkap kok
Isu yang Beredar
Namanya juga isu, entah benar entah tidak. Tapi beberapa orang bilang kalau dalam rangka memberikan dukungan dana pada pasangan Yuda, Bupati Untung yang memiliki Rumah Sakit Mardi Lestari dan juga Dayu Park telah menggadaikan kedua aset tersebut. Doh, modalnya saja seperti ini, berjuangnya saja sekeras ini, apa ya yang mau diharapkan kalau sudah jadi nanti?
Isu yang kedua tidak boleh ngomong Ada di lingkungan kantor pemda, pake wonten atau hadir saja. Pobia banget nih, sepertinya Bupati Untung mencium bau anyir kekalahan bagi pasangan anaknya, sampai melakukan hal tidak perlu seperti ini, justru kelihatan kalau dia takut.
cabup sragen, yuni darmawan sragen, contoh kalimat-kalimat untuk berkampanye, kata kata orasi yang efektif

Pingback: Hasil Sementara Pilkada Sragen | abouttiyo